Satu Hari, Seribu Kenangan
Perjalanan kali ini terasa seperti berjalan di dalam kabut. Biasanya, jarak Surabaya - Malang tak pernah terasa berat. Satu setengah jam itu bisa dihabiskan sambil tidur, membaca, atau sekadar memandangi sawah hijau yang memanjang di kiri-kanan jalan. Tapi hari ini, waktu seperti memanjangkan dirinya. Satu setengah jam itu berubah menjadi lorong tak berujung.
Di luar jendela mobil yang membawaku menjauhi bandara Juanda, pemandangan melintas mundur, hamparan sawah, pom bensin yang atapnya memantulkan cahaya matahari, deretan warung makan pinggir jalan dengan spanduk pudar, dan papan reklame setengah sobek. warnanya kusam di mataku. Seperti dunia ikut berduka. Ponsel di genggaman terasa berat, bukan karena bobotnya, tapi karena kabar yang terkandung di dalamnya. Telepon terakhir dari kakak sudah cukup membuat napas terasa sesak:
"Apa lah ndak ado, Ci..."
Tidak ada kata tambahan. Tidak ada penjelasan panjang. Hanya beberapa penggal kata yang seketika membuat dadaku kosong. Aku tidak ada di sisi bapak saat napas terakhir itu terlepas. Dan itu adalah sesal dan luka yang kupikir tak akan pernah sembuh.
***
Mobil yang kutumpangi berbelok memasuki gang kecil di ujung perumahan. Suara mesinnya memantul di tembok-tembok rumah yang berderet rapat. Halaman rumah sudah setengah sepi. Kursi-kursi plastik yang tadi pagi mungkin penuh pelayat, kini tersandar tak beraturan di sudut. Aroma melati menyesaki udara.
Aku melangkah masuk. Ruang tamu kosong. Karpet merah terbentang di lantai, karpet yang dulu dibeli bapak dan ibu di pasar.
"Ingat nggak, Ci?" Suara bapak seolah muncul dari ingatan, begitu jelas hingga aku hampir menoleh mencari sosoknya.
"Karpet ini buat lebaran nanti. Biar tamu duduknya enak." Aku masih ingat ibu yang waktu itu tersenyum sambil berkata,
"Padahal kita jarang tamu." Bapak tertawa.
"Kalau datang, masa kita suruh duduk di lantai dingin?" Bapak terkekeh. Sekarang, karpet itu tetap terbentang. Tapi bapak sudah tidak ada.
Aku duduk di pojok ruangan, menyandarkan punggung di dinding yang kali ini terasa dingin. Mataku mengawang menatap pintu kamar bapak. Tidak ada air mata, setidaknya belum. Yang ada hanya hampa yang membungkam segalanya.
***
Bapak bukan hanya seorang ayah. Dia juga suami yang tak banyak tandingannya. Aku sering melihatnya membantu ibu menjemur pakaian. Pernah pula, sehabis makan, bapak diam-diam mencuci piring sebelum ibu sempat memprotes.
"Udah sana istirahat, Pak. Nanti Ibu aja yang nyuci," kata ibu suatu siang.
"Kalau bisa bareng, kenapa harus sendiri?" kata bapak sambil terkekeh.
Ketika ibu sakit, bapak menjadi perawat yang tak pernah lelah. Menyuapi bubur sedikit demi sedikit, memijat kaki ibu setiap malam, bahkan menyisir rambutnya perlahan. Tidak semua suami mau melakukannya tanpa keluhan. Bapak melakukannya seolah itu hal paling alami di dunia.
***
Waktu itu aku masih SMA. Keuangan rumah tangga pas-pasan. Bapak sudah pensiun, tapi tetap bekerja.
"Kalian semua belum selesai sekolah, belum kuliah, masa bapak duduk santai?" begitu katanya setiap kali aku menyarankan beliau beristirahat. Aku sering merasa kasihan. Ingin cepat bekerja supaya beban bapak dan ibu berkurang. Tapi bapak bersikeras,
"Biaya itu urusan bapak. Kamu harus kuliah."
"Alhamdulillah...lulus, Ciiii!" teriak bapak sambil menunjuk namaku di koran. Matanya berbinar, senyumnya lebar. Ibu disampingnya juga ikut tertawa bersama.
Ah, tawa itu.. aku masih ingat jelas. Tawa yang membuatku tak sanggup menolak kuliah, memenuhi harapan bapak dan ibu diiringi sedikit rasa bersalah karena masih membebani orang tua dengan segala biaya. Tapi kepatuhan ini dan motivasi dari beliau adalah salah satu hal yang kusyukuri karena setelahnya hidup kami menjadi lebih baik.
***
Ada sore yang sering kembali di kepalaku. Bapak mengajakku membeli pompa sepeda. Di tengah jalan, hujan turun deras. Kami berteduh di depan toko, basah kuyup.
"Dingin ya, Ci?" tanya bapak sambil menepuk lenganku.
"Iya… tapi seru juga hujan-hujanan," jawabku sambil tertawa kecil. Bapak tersenyum,
"Kalau sama bapak, hujan pun seru, ya?" Aku mengangguk. Dan kami tertawa bersama di bawah atap toko itu, sementara hujan menari di aspal.
***
Setahun sebelum bapak sakit, ibu lebih dulu pergi. Dua minggu dirawat di rumah sakit, lalu… selesai. Saat itu bapak sedang salat subuh di musholla rumah sakit.
"Bapak nggak ada waktu ibu pergi, padahal selama ini bapak yang setia merawat" ucap bapak padaku suatu sore, suaranya pelan, kepalanya menunduk sambil memandang foto ibu di layar telepon genggamnya.
Aku menatap Bapak, menggenggam tangannya, mencoba menenangkan. Aku tahu pedihnya dan aku tahu luka itu tidak pernah benar-benar sembuh. Sejak itu, bapak sering termenung. Hampir setiap hari, beliau memandangi foto ibu di ponselnya lama-lama. Aku? Tidak sanggup, semua foto ibu kusimpan karena rindu yang tak tertahan setiap melihatnya.
***
Penyakit itu datang tiba-tiba padahal bapak jarang sakit sebelumnya. Kami membawanya ke rumah sakit di Malang, berharap pengobatan akan berhasil. Tiga hari sebelum beliau pergi, aku pamit pulang ke Jakarta. Suamiku sakit, dan aku harus menemani. Aku berjalan perlahan di ruang ICU menuju Bapak dan berdiri di samping ranjang.
"Bapak istirahat ya…" kataku, memaksa senyum meski hatiku bergetar.
Aku tak ingin terlihat sedih di depan beliau dengan memaksa menaruh binar palsu di mataku. Beliau menatapku lama, matanya seperti ingin mengatakan sesuatu. Bibirnya bergerak, tapi selang oksigen membuatnya sulit bicara.
“Nanti Ci liatin bapak dari balik jendela itu," ucapku cepat, takut air mataku keburu jatuh karena tak tega menyampaikan bahwa aku harus balik ke Jakarta. Dalam hati aku berjanji akan kembali secepat mungkin. Kalimat itu, seperti janji yang tak sempat kutepati.
***
Pagi berikutnya, setelah mengurus suami di rumah sakit, aku duduk sebentar di ruang tamu rumah di Jakarta. Kujalankan jempol di layar ponsel, mengetik doa untuk bapak di grup keluarga. Tiba tiba telepon dari kakakku masuk. Suaranya bergetar,
"Bapak udah pergi.."
Duniaku runtuh untuk ke dua kalinya. Tangis pecah. Tubuh gemetar. Harapan menunggu bapak sampai akhir, hilang seketika.
***
Perjalanan pulang kali ini memang terlambat. Tapi aku percaya, suatu hari nanti, akan ada pertemuan lain di tempat tanpa jarak dan waktu. Di sana, bapak akan menyambutku, dan aku akan pulang tepat waktu.
Keesokan harinya aku ikut ke makam. Udara Malang dingin, tapi matahari mulai hangat. Aku berdiri di tepi gundukan tanah yang masih basah, memandangi nisan yang baru dipasang kemarin sore.
"Bapak, maaf…" bisikku pelan.
Tak ada jawaban, hanya angin yang menyapu wajah. Tapi aku ingin percaya bahwa bapak mendengar.
***
Setelah tahlilan ketiga, rumah kembali sunyi. Karpet merah di ruang tamu tetap terbentang. Bedanya, kali ini air mata tak lagi tertahan. Aku sadar, rasa bersalah ini mungkin tak akan hilang. Tapi aku juga tahu, kenangan tentang bapak akan terus kujaga agar suatu hari, rasa bersalah ini berubah menjadi rasa syukur karena pernah punya bapak sebaik beliau.
Di sela-sela rasa rindu itu, ada satu hal yang tumbuh di hatiku: tekad. Teladan bapak tentang bagaimana ia mencintai ibu, menghormatinya, membantu tanpa diminta akan kuturunkan kepada anak laki-lakiku. Aku ingin ia tumbuh menjadi lelaki yang ringan tangan, yang tahu bahwa cinta tak hanya diucapkan, tapi juga dikerjakan.
Suatu sore, beberapa waktu setelah kepergian bapak, aku melihat anakku berdiri di dapur, mencuci piring tanpa disuruh. Ia menoleh dan tersenyum,
"Biar Mama nggak capek."
Aku tertegun. Di wajahnya, aku melihat sedikit bayangan bapak. Air mataku jatuh, bukan hanya karena rindu, tapi karena harapan bahwa teladan itu terus hidup, meski bapak sudah pergi.