Jumat, 08 Maret 2019

Dunia Adalah Pertarungan



Dunia ini pertarungan ayah, bunda..

Dan tugas orang tua bukan hanya memberi nafkah dan memberi ijin menikah tapi juga mendidik anak2nya agar ia jadi sholeh dan tangguh.
SHOLEH dan TANGGUH itu tidak bisa dipisahkan.. 

Seperti aku dan kamu yaa...? 😄😄😜

Agar apa?

Agar ia berani bicara dan bertindak, tidak hanya mencari zona nyaman ketika melihat kemungkaran di depan matanya, agar ia tidak hanya diam saja melihat maksiat yg ada di depan matanya dengan alasan:
"Asal bukan saya" 
"Yang penting bukan saya" 
"Itu urusan dia sama Allah" 
"Ngapain sih ngurusin hidup org lain, hidupmu aja belum tentu benar?" dan sederet pembenaran lainnya..

Sebagai contoh lihatlah pelaku maksiat itu.. mereka tangguh2 lho.. lihat misalnya perjuangan pelaku LGBT agar keberadaan mereka diakui dan dilegalkan disebuah negara.. gigih kan mereka? Ga kenal menyerah dlm memperjuangkan keberadaannya..

Apa jadinya kalau anak kita bukan muslim yang sholeh dan tangguh? Mereka tidak akan mampu menyuarakan kebenaran, tidak akan mampu bilang tidak dan menjauh dr keburukan..mereka tidak akan mampu menegakkan amar makruf nahi munkar.

Naudzubillah..


**tulisan receh ini hanya cara saya utk memanfaatkan kuota 20.000 kata perhari..hehe

Rabu, 22 Agustus 2018

AUSTRALIA... I'M COMIIIING..


Wew... akhirnya impian yang terpendam sejak 21 tahun yang lalu terwujudkan.. Alhamdulillah ya Rabb..:)

Yup, Australia sudah jadi impian saya sejak masih SMA. Ketika pertama kali liat sebuah poster yang menggambarkan birunya laut Australia bersanding dengan Opera House. Kesan sejuk, nyaman dan bersih langsung masuk ke dalam pikiran saya ketika itu dan hatipun membatin seandainya suatu saat saya bisa kesana, menikmati sejuknya hembusan angin di bangku-bangku sekitaran Opera House. 

Dan akhirnya, setelah 21 tahun berlalu sebuah keadaan mewujudkan impian saya itu..:)


Dimulai dari berburu tiket GATF, mengurus passport buat saya dan anak-anak, mengurus visa, booking hotel, booking tranport PP bandara-hotel, ke money changer, semua saya lakukan sendiri. Dan akhirnya, dengan ijin Allah saya bersama anak-anak akhirnya terbang ke Sydney.

Ada pengalaman seru saat ngurus visa. Meski beli tiket udah 4 bulan sebelum berangkat, tapi saya baru urus visa persis 15 hari kerja sebelum berangkat, gara-gara merasa waktu masih panjang jadi dilalai-lalaikan.. hihihi. Saya sempat menghubungi sebuah agen perjalanan di Depok untuk membantu mengurus visa tapi mereka ga berani menjamin bahwa visa akan keluar tepat waktu coz ngurus visa Australia itu kurang lebih 14 hari kerja.. waaa.. rasa pingin nangis.. Mereka nyaranin agar saya langsung ke Aussie Center di Sarinah.

Daaan, besoknya berangkatlah saya ke Sarinah, langsung ke Aussie Center, dan jawaban yang samapun saya dapatkan lagi..hihihi.. Tapi mereka sempat ngasih harapan karena dokumen-dokumen yang saya serahkan semuanya lengkap dan memenuhi persyaratan. Jadi tinggal nunggu kabar aja.

Menunggu itu memang ga enak, tapi saya serahkan semua pada Allah, setidaknya saya sudah berusaha, Allah Maha Tahu yang terbaik buat saya. Dan akhirnya, tepat 8 hari kerja, saya dapat kabar bahwa permohonan visa saya dan anak-anak disetujui kedutaan Aussie. Thanks God!

Dan inilah kami di Aussie...:)
Duduk berdua di bangku impian :)

Langit dan lautnya bikin saya jatuh hati. Abaikan kepala si adek..hahaha

Hay Street
  
Hyde Park dengan latar St Mary's Cathedral

Sydney Observatory

The Rocks Discovery Museum

Museum of Contemporary Art Australia

Diatas kapal Capt. Cook Cruises

Salah satu penghuni Taronga Zoo

Burungnya juga minta maem

King's Cross Station, tempat kami memulai perjalanan setiap hari. Ada adek dipojok  hehehe


#australia #sydney #urusvisa #visaaustralia #tarongazoo #familytravelling #mom&kid'sadventure

Jumat, 30 Januari 2015

THANK YOU ALLAH, FOR SAVE US



Ini adalah kisah paling mendebarkan dalam hidupku sampai saat tulisan ini kubuat. Saat dimana aku berada dalam kondisi bahwa ajal akan segera menjemput, dalam keadaan yang semua orang pasti tidak menginginkannya, penuh ketakutan..

Mengingat kembali peristiwa kemarin, Kamis, 29 Januari 2015 saat aku dan beberapa orang teman bermaksud pulang ke Jakarta setelah melakukan perjalanan dinas di Surabaya.  Jadwal keberangkatan pukul 16:50 WIB dengan pesawat Lion Air JT 693.

Sore itu cuaca di Surabaya memang tidak bagus, sempat diguyur hujan deras sebelumnya. Setelah check in dan menunggu beberapa lama diruang tunggu, sekitar pukul setengah 5 semua penumpang dipanggil untuk memasuki pesawat. Aku merasa lega karena jadwal pesawat ga delay, berarti lebih cepat sampai rumah dan ketemu keluarga. Tidak ada firasat apapun, semuanya normal-normal saja. Memang sempat terjadi insiden kecil dimana 3 dari temanku sempat telat banget datang ke bandara, dan aku beserta mereka menjadi orang terakhir yang masuk pesawat. Ga berani aku menatap mata penumpang yang udah duduk rapi di kursi ketika kami masuk menyusuri satu persatu barisan penumpang hingga sampai di seat kami. 
Malunya minta ampun >.< 
Setelah duduk, akupun bilang sama temanku, “Jangan diulangi lagi ya kayak gini”, dan kami pun tertawa.

Jam tanganku menunjukkan  pukul  5 ketika pesawat mulai take off. Lima belas menit pertama pesawat terbang tanpa ada gangguan. Semuanya baik-baik saja. Tapi ternyata itu tidak berlangsung lama. Awan tebal yang membumbung bagaikan kapas mulai membuat pesawat bergoyang. Awalnya hanya goncangan kecil namun lama kelamaan goncangan semakin kuat. Bahkan saking kuatnya ada penumpang yang sampai berteriak karena ketakutan. Akupun tak kalah takut. Kulantunkan zikir menyebut nama Allah, berharap kondisi ini segera berakhir.

Namun ternyata, goncangan tersebut tak kunjung berhenti bahkan ada saat dimana kurasakan pesawat berguncang sangat keras dan tiba-tiba tersentak naik. Masya Allah! Aku berzikir dengan sangat cepat bahkan mungkin lebih cepat dari detak jantungku sendiri. Kupegang tangan teman disebelahku kuat-kuat karena saking takutnya.  Ga bisa dilukiskan bagaimana perasaanku saat itu,  saat dimana tidak ada lagi tempat bergantung selain hanya pada Allah. Ya, di ketinggian ribuan meter diatas permukaan laut tidak ada satupun tempat bergantung selain hanya pada Allah. Ketika goncangan itu tak kunjung berhenti dan semakin keras aku merasa mungkin disinilah ajalku, dengan cara seperti ini aku berakhir di dunia, penuh ketakutan dan  entah mayatku nanti bisa ditemukan atau tidak.. Aku menangis dan terus menangis.. Wajah orang-orang yang kucintai satu per satu melintas, Ihsan, Nazneen, suami, bapak, ibu, adikku, kakakku..
Entah berapa lama persisnya keadaan seperti itu berlangsung, yang pasti cukup lama sampai membuatku sesak napas dan hampir pingsan.

Namun Alhamdulillah, pada akhirnya kami selamat dan mendarat dengan mulus di Jakarta. 
Keluar dari Terminal 1A Bandara Soehat, azan Magrib menyambut kami.

Terima kasih ya Rabb, masih memberiku kesempatan hidup...








Kamis, 25 Desember 2014

Ibu dan Syaraf Kejepit (HNP)


Setelah 3 tahun lebih berusaha mencari alternatif lain untuk menyembuhkan syaraf kejepit atau HNP (Hernia Nucleus Pulposus) yang ibu derita, pada akhirnya ibu setuju untuk dioperasi. Hari itu, Kamis, 4 Desember 2014, 3 hari menjelang ulang tahun ibu yang ke 63 tahun, ibu masuk ruang operasi…

Operasi, adalah salah satu hal yang awalnya sangat ingin dihindari ibu karena pengalaman yang “tidak menyenangkan” setelah operasi batu ginjal pada tahun 2010 lalu. Saat itu ibu sempat masuk ruang ICU selama  4 hari. Penyebabnya karena efek anestesi yang bikin  mual sehingga beliau ga mau makan, belum lagi antibiotik dosis tinggi untuk mencegah infeksi yang juga bikin mual. Karena itu, walaupun dokter sudah menyarankan untuk operasi syaraf kejepit, ibu dan juga kami sekeluarga sepakat untuk mencoba jalan lain bagi kesembuhan ibu.

Berbagai cara dilakukan, mulai dari berenang, mengurangi berat badan, terapi panas dan pakai korset. Pernah juga saya, suami dan bapak nemani ibu ke Cianjur untuk diobati oleh seseorang yang katanya bisa menyembuhkan syaraf kejepit. Caranya dengan mengoleskan semacam ramuan dibagian yang sakit. Entah apa campuran dari ramuan itu tapi efeknya bikin panas kulit sampai ibu teriak-teriak. Berulangkali ibu bilang “Stop..stop”, supaya si Akoh brenti dulu ngolesin ramuannya.  Setelah itu memang ibu bisa bergerak normal, jalan, jongkok bahkan sholatpun bisa rukuk, padahal sebelumnya ga bisa. Karena itu akhirnya suami pun tergoda untuk mencoba ramuan si Akoh.. hehhehe.. berharap pegel-pegel yang sering dirasain juga hilang. Pokoknya waktu itu senenglah liat kondisi ibu. Alhamdulillah, akhirnya ibu sembuh pikir kami semua. Tapi ternyata itu ga berlangsung lama, begitu Magrib, masih dihari yang sama sakit ibu kembali terasa:’(. Ramuan kembali dioles. Hilang sih sakitnya tapi begitu efek panasnya ilang, sakitpun kembali terasa..

Pernah juga kami bawa ibu ke Klinik Alternatif yang di Karang Tengah. Saya dapat info dari TV bahwa yang punya Klinik itu bisa menyembuhkan syaraf kejepit. Begitu datang, kami diminta mendaftar. Kami harus bayar 50 ribu “hanya” untuk mendapatkan kartu kecil dari kertas yang berisi nama dan alamat ibu. Mahal banget..:( Setelah beberapa lama ibupun masuk ke ruangan mirip kamar gitu yang didalamnya ada kasur single bed. Disana ibu diminta baring sama si Ustad dan kemudian dipijit. Disitu ibu juga teriak-teriak, sakit karena pijitnya lebih mirip dicubit kata ibu. Begitu selesai saya diminta bayar 100 ribu yang kata si Ustad untuk sumbangan yatim. Sumbangan kok ditentuin besarnya, pikir saya. Tapi saya nurut aja walaupun agak gimana gitu.. Kemudian saya diminta ke “apotik”nya untuk ngambil obat.

Setelah beberapa saat ngantri akhirnya nama ibu dipanggil. “Apoteker”nya ngasih 3 botol putih yang di dalamnya ada kapsul yang katanya bisa nyembuhin ibu. Isi kapsul itu seperti daun-daun kering yang sudah ditumbuk kecil-kecil. Saya lupa satu botol itu isi berapa kapsul tapi yang jelas 3 botol itu untuk 5 hari. Satu botol itu harganya 250 ribu. Jadi kami membayar 750 ribu.  Uang 900 ribu yang siapin dari rumah, ludes saat itu.. Ampun reeeek.. ini Klinik kok tau ya saya bawa uang 900, kok ya pas segitu nagihnya. Pendaftaran 50 ribu, sumbangan 100 ribu plus obat 750 ribu, total 900 ribu pas :(

Selama konsumsi obat itu sakit yang dirasa ibu hilang bahkan kami sempat jalan-jalan ke Yogyakarta, ke Candi Borobudur, Keraton dll. Seneng rasanya liat ibu bisa fit lagi… Tapi kami harus kecewa lagi karena setelah beberapa kali beli obatnya sakit ibu masih ada, padahal si Ustad bilang biasanya dengan sekali terapi pasien udah ga dateng lagi, udah sembuh katanya. Ya pantes aja ga balik, mahal sih, pikir saya. Trus kok ya bisa klaim pasien sembuh padahal pasiennya aja ga balik. Kan bisa aja mereka ga balik karena merasa ketipu dan cari tempat pengobatan lain.. hehhehe.. Akhirnya ibupun brenti konsumsi kapsul-kapsul itu karena takutnya juga dengan efek sampingnya. Pengobatanpun kembali dilanjutkan dengan terapi di RS selama kurang lebih 2 tahun.

Hingga pada suatu sore, tiba-tiba saya dapat telepon dari bapak. Mengabarkan kalo ibu ga bisa bangun, ga bisa ngapa-ngapain, setiap bergerak berasa sakiiiit banget. Kemungkinan salah posisi ketika baring. Kejadian inilah yang membulatkan tekad ibu untuk segera dioperasi. Dengan bantuan tetangga dilingkungan rumah, terutama mbk Hanis - semoga Allah swt membalas kebaikanmu mbk - ibu ke dokter dan dokter menyarankan untuk segera dioperasi. Dan ibupun setuju.

Sungguh tidak mudah untuk mendapatkan kamar di RS, karena dengan adanya BPJS rumah sakit jadi kebanjiran pasien. Pihak RS menyarankan bapak untuk sesering mungkin mengecek ketersediaan kamar, mulai pukul 08.00-11.00 setiap hari. Ada sih nomor telepon diberikan oleh petugas RS, tapi begitu dihubungi ga pernah diangkat. Akhirnya terpaksalah bapak yang bolak-balik ke RS. Maafkan saya pak, mestinya itu tugas saya :'(

Kurang lebih 1-2 minggu menunggu, akhirnya ada juga kamar yang kosong. Ibu segera masuk dan dimulailah pemeriksaan ini itu. Rontgen, cek jantung, darah dan sebagainya. Setelah semuanya dinyatakan oke, Kamis, 4 Desember 2014, ibupun masuk ruang operasi.. Dengan ditemani adikku, bapak dan uda - maafkan saya ga datang bu :( - ibu masuk ruang operasi. Alhamdulillah, operasi syaraf kejepit dengan pemasangan pen yang berlangsung kurang lebih 6 jam tersebut lancar. Pukul 7 malem ibu keluar dari ruang operasi dan kembali ke ruang perawatan…


Alhamdulillah ya Rabb atas semua kemudahan yang telah Engkau berikan. Tak ada kata yang sanggup melukiskan rasa syukurku atas semua ini…

Senin, 16 Januari 2012

Alhamdulillah, Ihsan sembuh (2-habis)



Udah lama banget ga nulis,  1 tahun bo! 15 Jan 2011 – 15 Jan 2012 Padahal dulunya pingin bikin tulisan bersambung tentang sakitnya Ihsan (batuj), eh sampai sekarang masih belum kesampaian..hehehe.

Hari ini saya ingin nulis lagi ah, coz suasananya mendukung banget. Diluar hujan, dingin, anak-anak pada tidur dan misua lagi ngantor. Tadinya sih pingin ikutan tidur bareng bocah-bocah itu, tapi pas liat computer lagi nganggur jadi kepikiran nulis J *sayang ga ada pisgor*.

Yo wes lah.. Tulisan kali ini tak awali dengan menyelesaikan “kisah batuk”nya Ihsan J. Jadi tuh, Desember 2010 sembuh, tp 2 minggu kemudian kambuh lagi. Nah sekitar bulan Maret 2010 sembuh total! Alhamdulillah banget! Puji syukur sama Allah swt. Enam bulan lamanya Ihsan batuk, ga sembuh-sembuh. Berat badannya ga naik-naik. Tetap di 16 kg. Badannya yang sebelumnya padat ampe ga bias dicubit, jadi lembek. Saya waktu itu udah mau nyerah, istilahnya apa yang akan terjadi, terjadilah, ga tau lagi mau kemana cari obat buat Pelangi Kecil-ku itu.Berbagai cara udah dicoba mulai obat dokter, pijat, bahkan jamu pun pernah saya kasih, tapi tak membuahkan hasil. Saya masih ingat, dulu itu sering banget saya nangis kalo mau tidur karena mikirin Ihsan, habis sholat, pas berdoa gitu, juga nangis *hehehe emang ratunya mewek*

Alhamdulillah disaat saya udah mau menyerah Allah menggerakkan tangan saya untuk menyembunyikan susu formulanya Ihsan. Sebenarnya DSPA di Mutiara Bunda Malang dari dulunya udah bilang supaya sufor-nya dihentikan, ganti dengan sufor yang dari kedelai/soya. Nasehat untuk mengganti sufor itu udah aku jalanin, tapi Ihsan ga suka, muntah-muntah gitu karena nyium baunya *emang ga enak sih bau sufor soya, palagi rasanya..tapi ini pendapat saya pribadi lho ya*). Alhasil karena waktu itu saya masih berpikir “Ihsan GA BISA SEHAT dan GEMUK TANPA SUFOR”, saya lanjutin lagi ngasih sufor yang lama, yang dari susu sapi Mooo… itu. Sekarang saya paham, bahwa anggapan saya saat itu SALAH BESAR!. Anak tetap bisa tumbuh sehat tanpa sufor. Di Tabloid Nova *edisinya lupa* saya pernah baca bahwa sufor bukanlah asupan gizi utama untuk anak diatas usia 2 tahun. Sufor ditengarai menyebabkan berbagai macam alergi pada anak-anak seperti gangguan saluran pernafasan ex: batuk, gangguan kulit ex: eksim dan gangguan saluran cerna ex: sembelit. Gizi buat anak-anak bisa kita dapatkan dari lauk dan sayuran yang sehat.

So, pagi itu, selepas sholat subuh saya langsung ke dapur ngambil kotak susunya dan saya simpan dilemari. Memang sih rewel karena selalu minta dibuatin susu, tapi untungnya bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan… hehehhe.

Jadi 2 hari ga minum susu…Do you know what happen?? Subhanallah! Batuknya sembuh! Wow! Ga ada lagi uhuk-uhuk, muntah dan berat badannya pun kembali naik. Maret 2010 masih 16 kg, Desember 2010 naik jadi 22 kg, sekarang diusianya yang 5 tahun beratnya udah 26 kg. dan itu semua TANPA SUFOR!!

So, buat mommy yang balitanya batuk berkepanjangan, ga ada salahnya nyobain apa yang udah saya lakukan. Hentikan pemberian susunya barang sehari dua hari, dan lihat perkembangannya!

SalamJ